by Tita Bercerita
Apa sih Cinta itu? Rasa deg-degan saat bertemu dengan orang yang kita sukai? Atau "listrik" yang menyambar ketika kita menemukan dambaan hati? Mari kita gali lebih dalam, apa itu Cinta.
Menurut Buddhisme, definisi dari cinta sangatlah simple, keinginan untuk berbahagia, baik bagi diri, maupun bagi orang atau makhluk lain. Tapi apakah pernyataan tersebut benar? Jawabannya kita perlu telusuri lewat mengkontemplasikan pengalaman pribadi kita. Aku akan sharing pengalaman pribadiku, yang mungkin dapat membantumu berkontemplasi.
Banyak orang yang menganggapku baperan, melankolis, terlalu sensitif, dan hal tersebut membuat mereka risih. Sahabat terdekat, orang-orang yang pernah menjadi pasanganku, bahkan orang tuakupun tidak tahan dengan perilaku tersebut. Aku pernah menangis di kamar mandi sebuah gym, aku pikir tidak ada orang disana, dan saat itu tangisanku membludak, ada satu temanku yang mendengarkan tangisanku, respon dari dia jujur akupun tidak ingat persisnya, namun kata-katanya seperti ini "Kamu nggak tahu kan masalahku kayak gimana? Mungkin kalau dibandingkan dengan apa yang aku hadapi, masalahmu itu nggak ada apa-apanya. Come on be strong!" . Pernah juga salah satu rekan kantorku dulu mencibir saat aku menangis karena dimarahi bossku, kira-kira kata-katanya sama menyiratkan bahwa aku terlalu lembek.
Aku benci diriku, karena sifat sensitif tersebut, dan yang aku tahu, hanya sifatku yang ceria lah yang disukai orang banyak, jadi aku banyak memakai "topeng" ceria, sedangkan banyak kesedihan yang aku tutupi, saat itu akupun tak tahu kenapa aku sering menangis tanpa sebab, dan bahkan sebelum menangis, biasanya diawali dengan serangan panik, aku sulit bernapas, dan baru bisa bernapas lega saat tidak ada orang di sekelilingku dan biasanya aku pasti menangis.
Karena kebencian akan part sensitifku, aku mencoba untuk berlatih meditasi, aku pikir meditasi akan membuatku tenang, sama seperti para biksu-biksu yang aku lihat ada di Vihara, aku pikir mereka sudah tidak memiliki emosi sedih, benci, marah dan emosi-emosi lainnya yang bergejolak.
- Pema Chödrön
Long story short, sekarang sudah 5 tahun aku bermeditasi dengan teknik yang di ajarkan, namun ternyata bagian sensitif itu masih ada.
Akupun masih sering menangis dalam meditasiku. Bukan hanya itu, kadang kalau ada hal yang menyentuh, aku akan menangis. Namun ada satu hal yang berbeda, yaitu penerimaan yang besar, aku tidak lagi benci dengan sifat sensitifku, sekalipun aku menyadari masih ada sedikit rasa takut untuk tidak diterima apabila rasa sensitif itu muncul di hadapan orang banyak.
Penerimaan tersebut lambat laun membuat serangan panik yang aku alami sedikit berkurang. Penyakit asma kronisku pun sudah lama tidak kambuh lagi, sehingga ruam dan gatal yang disebut dengan nama dermatosis atopik di kulit akibat serangan asma pun jarang kambuh, kecuali saat aku dilanda stress berat.
Pernah dengar lagu semua karena cinta? Cuplikan liriknya "Dan bila aku berdiri tegar sampai hari ini, bukan karena kuat dan hebatku, semua karena cinta". Hal tersebut yang menggambarkan apa yang aku alami dalam latihan meditasiku, di dalam latihanku, aku bertemu dengan cinta sejati yang ada di dalam diriku, sebuah cinta yang bisa memberiku keamanan untuk menjadi diriku,
Yang tidak mencibir kecengenganku, atau menganggapnya berlebihan, yang selalu sabar mendengarkan dan merasakan apapun yang aku rasakan, yang selalu setia ada bersama diriku, yang senantiasa tidak menghakimi sekalipun batinku sedang dalam keadaan tidak tenang, dan memiliki gejolak dan rasa tidak nyaman bahkan menyakitkan.
Mengapa aku bisa bertemu dengan cinta sejati di dalam batinku saat meditasi? Itu semua karena meditasi adalah metode untuk terbiasa akrab dengan batin kita sendiri, dan batin kita pastinya tidak selalu tenang, dan semakin kita sering berlatih mengakrabkan diri dengan batin kita, kita akan lebih mudah untuk melihat banyak fenomena yang selama ini tidak kita sadari.
Kembali lagi pada topik apa itu cinta? Dari cerita di atas, mungkin akan membuat kalian bingung, lalu cinta itu apa?
Cinta adalah impuls/ dorongan untuk berbahagia, yang ada di dalam diri semua makhluk hidup. Dalam kasusku di atas aku ingin bahagia dengan cara berhenti menjadi sensitif, makanya aku mencoba berlatih meditasi, dengan usaha dan dedikasi yang membuatku menemukan yang aku butuhkan, yaitu penerimaan. Karena dari ceritaku di atas, sebelumnya semua orang, bahkan diriku sendiri benci dengan sifat sensitifku.
Setelah aku perlahan menerima diriku, hidupku menjadi lebih baik, dan penerimaan yang aku usahakan, tidaklah mudah, butuh bertahun-tahun lamanya, dan banyak trigger yang aku hadapi untuk menerima sisi sensitif yang selama ini aku benci.
Cinta, sebuah insting yang selalu mendorongku mencari kebahagiaan, yang bekerja keras demi kebahagiaanku, yang dulunya berbentuk mencari pasangan, shopping atau self reward, dengan meditasi, cintaku berubah menjadi keinginan besar untuk setia menemaniku, duduk dan menerima semua yang batinku alami, sekalipun hal itu tidaklah menyenangkan.
Semoga kalian semua yang membaca cerita ini, bisa menemukan cinta sejati, yang ada di dalam diri kalian.
Love 🤍,
Tita